Rabu, 01 Februari 2017

Bijak dlm menyikapi berita, kabar, hoax, dlm media sosial fb, bbm, twiter, Whatsup dll

Hidup di jaman digital, berinteraksi dalam ruang maya memang tidak lagi bisa dihindari. Informasi mengalir bak buih lautan yang terus menghiasi layar gawai. Berbagai aroma informasi menusuk otak dan syaraf.
Lalu bagaimana menyikapi fenomena maraknya
broadcast informasi bersliweran di gawai kita? Melalui tulisan ini, saya akan coba suguhkan lima langkah agar kita nyaman dalam bermedsos.
1. Baca secara utuh, Pahami!
Bagi saya, informasi sekecil apapun adalah berharga. Terlepas dari salah atau benar. Makanya jika tertarik, saya harus tahu dan harus baca hingga tuntas, agar paham pesan yang hendak disampaikan secara utuh. Jika perlu harus diulang-ulang. Jika tidak tertarik skip saja, tak perlu dibahas, tak perlu share. Titik!.
Membaca pesan yang masuk gawai hingga ratusan jumlahnya dengan keterbatasan layar memang tidak mudah. Seperti halnya baca artikel di atas kertas, butuh kejelian pada setiap kata serta maknanya. Jangan terkecoh dengan judul.
Upaya yang tak kalah penting adalah memahami isi pesan itu sendiri. Untuk memahami pesan, bisa saja memerlukan literasi diluar batas kapasitas yang kita miliki. Jangan memaksakan diri untuk sok paham dan sok tahu hanya karena ingin terlihat hebat.
2. Tetap berotak dingin dan berhati lapang
Dengan tujuan tertentu, tidak jarang pesan dikemas tidak lengkap, manipulatif, dan informasi yang terkandung tidak utuh lagi. Atau sebaliknya kebablasan bercampur antara fakta, opini pribadi, bahkan fitnah. Judul dibuat demikian rupa guna menarik, dibubuhi gambar yang kadang tidak ada kaitannya dan merubah persepsi konteks.
Apapun isi pesan, sekalipun itu dianggap negatif atau melukai perasaan bahkan keyakinan, upayakan otak tetap dingin dan buatlah hati tetap lapang. Tidak perlu terbawa emosi apalagi terpancing share , atau memberikan komentar yang tidak pada tempatnya.
Tak jarang, dalam beberapa hari kita mendapati pesan serupa, tapi telah mengalami perubahan konteks. Awalnya pesan itu pendek, namun di tangan orang kreatif, pesan itu dikemas ulang sedemikian rupa untuk mendapatkan sensasi lebih. Dalam hal ini, kita perlu pikiran lebih jernih menanggapi.
3. Gunakan hipotesis tak benar
Sekalipun broadcast tersebut dari teman, selalu gunakan hipotesis bahwa informasi tersebut tidak benar.
Jangan ragu japri ke pengirim pesan, untuk tanyakan dari mana asal pesan itu? Apakah dia sudah membaca dan memahami secara baik isi pesan? Jika perlu ajaklah diskusi, tentunya untuk menambah pemahaman bersama.
4. Mintalah pendapat ahlinya
Ragu dengan kebenaran informasi broadcast ? silahkan minta pendapat kepada ahlinya atau sumber terpercaya. Sekaligus meminta penjelasan atas apapun terhadap broadcast tersebut.
Buku terbitan adalah alternatif utama sebagai sumber otoritas bila tidak dapat menemukan ahli secara langsung. Namun harus tetap berhati-hati dengan buku cetakan yang telah mengalami manipulasi dari teks aslinya ( tahrif ). Karena saat ini banyak buku cetakan terkait pemahaman keagamaan beredar telah mengalami pergeseran dari naskah aslinya.
Terkait dengan kajian agama dan keyakinan, mintalah verifikasi dari sumber-sumber otoritatif, yang memiliki kajian mendalam dari segi substansi maupun konteks. Bukan sekedar ulama abal-abal yang belajar agama secara instan.
5. Cari pembanding
Jika masih ragu atas penjelasan seorang ahli, boleh saja cari pembanding. Disini penting, karena isi pesan bisa memiliki persepsi berbeda di mata ahli. Dan manfaatnya tentu kita akan memperoleh pemahaman yang lebih lengkap.
Mesin pencari Google kini telah sediakan fasilitas verifikasi atas sebuah gambar. Dengan fitur ini, kita bisa memperoleh informasi keaslian sebuah gambar. Siapa pengunggah pertama, kapan, dimana dan informasi awalnya seperti apa sebelum terjadi manipulasi.
Dengan berperilaku bijak, broadcast di medsos justru akan menambah wawasan dan pengetahuan bagi pengguna. Namun sebaliknya dan percayalah, tidak akan menambah kehebatan pengetahuan hanya dengan share sana-sini. Tidak akan menambah kekaguman orang lain lain atau tepuk tangan dari teman atas apa yang lepas dari jari kita.
Jadi tidak perlu merasa menjadi orang yang paling hebat ketika share informasi, sementara literasi nol besar.
Semoga mencerahkan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar