Senin, 23 Oktober 2017

Dengan tangan, dgn ucapan lisan, dgn hati..

MENCEGAH KEMUNGKARAN

Hadist Muslim No. 78 – (49) mengajarkan pada kaum Muslimin agar bersikap kritis dan peduli terhadap setiap penyimpangan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Sikap peduli itu bisa berbentuk tindakan nyata dan ucapan berupa nasehat, kritik atau kecaman.

Namun apabila tidak mampu kaum Muslimin hendaknya menunjukkan sikap menentang kemungkaran dengan perasaan hati.

Sementara orang yang mengetahui penyelewengan dan kejahatan namun cuek, tidak mau tahu, bukan urusan saya, “mbuh gak ruh jawane”, "yang penting saya sudah baik" maka itu bukan watak orang beriman.

Rasululloh bersabda: “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan kedua tanganmu, namun bila tidak mampu dengan lisanmu (nasehat) namun jika belum mampu juga cukup dengan hatimu, demikian itu selemah-lemahnya iman”.
{ Hadist Shohih Muslim No. 78 – (49) Kitabu iman}

Kamis, 12 Oktober 2017

Pring Lempeng cpt ditegor, yen sing ijih bengkok dijorna.. Nganti lempeng

#ilmu_pring
.....
.....pak kyai bisane saiki wong sing apik2 pada mati disit? Tapi wong sing badeg/ wong sing pada rusak akhlak'e ora umum malah ora mati2, tak dongani nganti ping pitulikur tetep ora mati2?
.....
Pak Kyai : pring sing ditegor disit mesti pring sing lempeng..... Pring sing lempeng mesti akeh kanggone, nggo tiyang yaa jejeg, nggo  nduwur gendeng yaa lempeng..... Wong sing kelakuane badeg esih dinein urip dawa, kuwe wujud Maha Pengasihe gusti Allah, ngein waktu ben sempet tobat....!

Kamis, 05 Oktober 2017

Orang baik vs orang buruk

IMAN PADA QODAR

Hadist Sunan Termizi No. 2137 Kitabul Qodar mengungkapkan satu kandungan yang sangat mengerikan bila difahami.

Seseorang yang sejak kecil beribadah dengan tekun bisa saja menjelang ajalnya ia berbuat maksiat, murtad dan mati masuk neraka. Naudzubillah min dzalik.

Sebaliknya, seseorang yang semasa hidupnya terus berbuat maksiat namun menjelang ajalnya ia bertaubat dan menutup hidupnya dengan kebaikan. Iapun mati ke Surga.

Itulah kenapa orang beriman tidak boleh merasa bangga, merasa puas, merasa sudah banyak amalan dan pahalanya.

Sebaliknya setiap Mukmin meski merasa andap asor, merasa kurang, merasa masih banyak dosanya, selalu was-was kalau-kalau amalannya tidak diterima oleh Allah.

Karena itu pula kita tidak boleh apriori atau benci pada orang lain atau golongan lain, sejelek apapun dan se-ekstrim apapun.